Bakar Batu (Edisi 2026-8)
Orang-orang yang tinggal di kota bisa memanggang makanan dengan mudah. Mereka punya oven dan microwave di rumah. Tetapi, bagaimana dengan orang-orang yang tinggal jauh di Tanimbar, Maluku, atau bahkan orangtua kita dulu?” Kiman bertanya kepada bapaknya dengan nada penasaran.
“Bakar batu,” jawab bapaknya dengan cepat.
“Hah, bakar batu?” tanya Kiman polos.
Bapaknya tersenyum, “Kiman mau makan bakar-bakaran, kan? Karena itu kita perlu bakar batu.”
“Bagaimana caranya bakar batu?” Kiman masih belum mengerti.
“Sudah. Ikut bapak saja bakar batu di hari Sabtu. Sekarang, bantu bapak menggali ubi-ubi jalar ini,” tegas bapak. Kiman hanya manggut-manggut. Pada hari itu, Kiman dan bapaknya sedang memanen hasil kebun.
Pada Sabtu sore, Kiman sudah sangat sibuk di belakang rumah. Dia mendapat tugas mengumpulkan batu-batu kecil maupun sedang. Sementara itu, bapak mulai menggali lubang untuk tempat membakar. Di dalam lubang itu, mereka meletakkan beberapa potong kayu, lalu menaruh batu-batu di atasnya. Kayu-kayu itu dibakar sampai habis dan berubah menjadi bara yang panas di batu-batu. Biasanya, semua itu memakan waktu sekitar satu jam.
“Nah, ini batu bakarnya sudah matang. Ayo, segera cicipi Kiman!” kata bapak sembari mengangkat beberapa batu tersebut dengan capitan khusus dari kayu.
Kiman mulai membayangkan makan batu bakar. Pikirannya sudah terbawa pada asap tipis mengepul dari batu-batu yang menyala, yang siap melepuhkan lidahnya. Kiman langsung menelan ludah dengan paksa.
Dari pintu belakang dapur, tampak mama Kiman keluar membawa ubi jalar yang tempo hari dipanen, kemudian menatanya di atas batu yang memerah. Ada juga keladi, ubi kayu ditata rapi. Mama menata lagi di atas umbi-umbian dengan daun singkong dan daun pepaya, kemudian ditumpuk dengan daging ayam kampung. Lagi, di atasnya ditumpuk dengan daun-daun tadi.
“Ohh… maksud Bapak bakar batu seperti ini. Humm… ternyata selama ini saya dibohongi.”
Setelah semua bahan-bahan masuk, di atasnya diletakkan daun pisang sebagai pembungkus Terakhir, bapak meletakkan batu di atas daun pisang.
Tiga jam berlalu, dan hari mulai gelap, semuanya telah matang. Ketika bapak dan mama mengangkatnya satu persatu, di situlah Kiman mulai takjub cara masak dengan menggunakan batu bakar. Bukan yang ada dalam pikirannya, batu yang dibakar lalu dimakan panas-panas.
Ubi jalar, keladi, ubi kayu, daging ayam kampung, serta daun-daunan yang telah menjadi sayur bakar terhidang di meja makan. Hanya dengan mencium baunya saja, mulut Kiman sudah penuh air liur dan ingin cepat-cepat mencicipinya. “Ubi jalar adalah favoritku,” kata Kiman.
“Cuci tangan dulu!” perintah mama.
Pada malam minggu yang tenang itu, mereka menikmati bakar batu.