Linlin_dan_Pelajaran_Bersyukur

Linlin dan Pelajaran Bersyukur (Edisi 2026-9)

Linlin adalah seekor landak. Sebagai landak, ia suka cemburu kepada burung-burung. Tidak hanya sebab mereka bisa terbang, tetapi juga burung-burung memiliki bulu-bulu yang indah berwarna-warni. 

Oleh karena itu, Linlin suka mengumpulkan bulu-bulu burung yang terjatuh atau terlepas, sehelai demi sehelai. 

Sehelai bulu burung itu akan ia selipkan di antara duri-durinya. Karena warnanya beraneka ragam, seperti yang Linlin harapkan, banyak satwa hutan yang lalu memuji keindahannya. Bahkan, juga dari bangsa burung sendiri! 

Namun, karena terus bertambah dan bertambah, Linlin mulai kesulitan bergerak. Ia jadi tak lagi gesit. Bahkan, duri-durinya yang menjadi pertahanan pun kini tertutup bulu-bulu burung yang bermacam itu.

Dakdak, salah satu teman Linlin, berkata agar bulu-bulu itu dilepas saja. Bahkan, Dakdak siap untuk membantu. 

Namun, Linlin menolak. Ia berkata tak ingin seperti dahulu, tak ingin jadi satwa yang warnanya kusam dan tak indah. 

Dakdak pun hanya bisa berkata pada Linlin, “Kita harus bersyukur, Lin. Tuhan sudah menciptakan kita dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”  Namun, Linlin tetap saja tidak mau mendengarkan.

Suatu siang, Linlin memutuskan melintasi jalan lain agar semakin banyak yang kagum pada bulu-bulu yang menempel ditubuhnya. Ia pun melewati rumput menjalar yang karena kemarau telah menjadi kering. 

Tempelan bulu-bulu di tubuh Linlin tiba-tiba tersangkut rumput menjalar itu. Setelah sekian lama, Linlin tidak juga bisa terbebas. Suaranya, yang dipakai untuk meminta tolong, mulai melemah. 

Hari mulai petang dan Linlin hanya bisa menangis dengan suara yang lirih.

Dakdak pun muncul. Ia berkata pada Linlin bahwa ia khawatir dan mencari Linlin ke berbagai sisi hutan. 

Dakdak lalu berkata, “Apakah sekarang bulu-bulu itu boleh kulepaskan, Linlin?”  Linlin pun mengangguk, mengiyakan. 

Setelah dibantu Dakdak, dengan cukup susah-payah, Linlin pun bisa terbebas dari rumput menjalar. Namun, karena bulu itu menempel pada duri-duri, duri-duri juga mesti dilepaskan. Setelah beres, Dakdak berkata, “Linlin, kamu tinggal di tempatku saja sampai duri-duri baru muncul. Aku dan Ibu akan senang menyambutmu.”

Linlin pun sadar, ia mesti lebih banyak bersyukur, bahkan mensyukuri teman yang setia dibanding penggemar yang ada hanya pada saat senang.

Linlin pun berkata kepada Dakdak, “Terima kasih, ya, Dakdak, sudah mau membantu. Ucapanmu itu benar, aku mesti lebih banyak bersyukur. Terima kasih juga, ya, Dakdak, sudah mau jadi temanku bahkan meski aku tidak berbulu indah dan hanya berwarna kusam…” 

Dakdak pun tersenyum senang.

Tanggal terbit: Klasika Kompas, 07-03-2026
Pengarang: Saharul Hariyono
Editor: Yudi Suharso
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
Tema: Empati, Keberanian, Tolong-menolong