Tobi, Kusi, dan Dahan Berbagi (Edisi 2026-11)
Di tengah hutan lebat Sulawesi, tumbuhlah sebuah pohon ara yang sangat besar. Buahnya merah, manis, dan wangi. Di dahan paling tinggi, ada sekumpulan buah ara yang paling besar dan matang.
Tobi, si tarsius kecil bermata bulat, melompat lincah ke dahan itu. “Asyik! Waktunya pesta buah!” soraknya kegirangan.
Namun, krek! Terdengar suara dahan berderak. Kusi, si kuskus beruang berbulu lebat dan hitam, memanjat pelan tapi pasti ke dahan yang sama. Ekornya melilit kuat di ranting.
“Hei, ini dahanku!” kata Kusi sambil mengendus buah ara. “Aku sudah memanjat lelah dari bawah sejak pagi.”
“Enak saja! Aku yang melihatnya lebih dulu dengan mata besarku ini,” balas Tobi tak mau kalah.
Keduanya mulai bertengkar. Tobi memamerkan lompatannya yang cepat dari ranting ke ranting. “Lihat? Aku lebih pantas di sini karena aku gesit!”
Kusi lalu bergelantungan dengan ekor dan kaki belakangnya. “Aku lebih kuat! Dahan ini butuh penjaga sepertiku.”
Suara cicit Tobi dan dengusan Kusi makin keras, membuat daun-daun bergetar. Mereka terus berdebat sampai lupa memakan buah ara yang lezat itu.
Wusss! Tiba-tiba, datanglah seekor burung rangkong. Sambil menatap dengan bijak, Kakek Rangkong berkata, “Tahan, anak-anak muda! Suara ribut kalian terdengar sampai ke ujung hutan.”
Tobi dan Kusi terdiam. Mereka menunduk malu.
“Kenapa kalian meributkan satu dahan? Pohon ara ini buahnya sangat banyak,” sapa Kakek Rangkong lembut.
“Tobi mau mengambil semuanya, Kek!” adu Kusi.
“Kusi yang serakah!” balas Tobi cepat.
Kakek Rangkong tersenyum. “Kalian tahu? Kalau kalian terus bertengkar dan saling dorong, buah-buah ara yang paling manis ini akan rontok ke tanah. Kalian berdua malah tidak akan menikmati apa-apa.”
Tobi dan Kusi menengok ke bawah. Benar saja, beberapa buah ara yang matang sudah jatuh terbuang karena dahan yang terus bergoyang.
“Kenapa kalian tidak bekerja sama saja? Tobi, tubuhmu kecil dan ringan, kau bisa memetik buah di ujung ranting yang kecil. Kusi, tubuhmu kuat dan peganganmu erat, kau bisa menarik dahan yang jauh agar buahnya mudah dipetik. Kalau berbagi tugas, kalian bisa mengadakan pesta buah.”
Tobi menatap Kusi, lalu mengulurkan sebuah buah ara paling merah. “Maafkan aku, Kusi. Kamu mau makan bersamaku?”
Kusi tersenyum dan menerima buah itu. “Tentu, Tobi! Biar aku yang tarik ranting sebelah atas untukmu, ya.”
Sejak hari itu, Tobi dan Kusi makan dengan damai. Mereka menyadari, berbagi dan bekerja sama ternyata jauh lebih menyenangkan daripada ingin menang sendiri.